Muntaber pada Anak: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi, dan Tanda Sembuh
Muntaber pada anak paling sering disebabkan oleh keracunan makanan atau infeksi virus dan bakteri. Ibu perlu memastikan kebutuhan cairan terpenuhi agar tidak dehidrasi.
Ditulis oleh :
Tim Penulis
Ditinjau oleh :
Dr. dr. Eva Jeumpa Soelaeman, Sp.A (K)
Diterbitkan: 01 Juli 2024
Diperbarui: 10 April 2026
Anak yang muntah-muntah disertai diare (muntaber) pasti membuat Ibu khawatir. Jangan dulu panik, kenali penyebab muntaber pada anak, gejala, hingga cara mengobatinya supaya si Kecil kembali ceria!
Anak Muntah dan Diare? Ini yang Perlu Orang Tua Pahami Dulu
Meskipun muntaber termasuk masalah pencernaan pada anak yang cukup umum terjadi, tentu saja ini bisa membuat Ibu bingung. Apalagi, kalau muntah dan diare terus-terusan.
Seringnya, muntaber tidak berbahaya dan bisa sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari. Walau demikian, muntaber bisa memicu dehidrasi pada anak.
Itu sebabnya, Ibu perlu memperhatikan asupan cairannya. Penting juga untuk Ibu mencari tahu apa yang jadi penyebabnya agar dapat menghindarinya di kemudian hari.
Apa Itu Muntaber pada Anak?
Muntaber pada anak adalah peradangan saluran cerna yang menyebabkan muntah, diare, sakit perut, dan kadang disertai demam.
Dalam bahasa medis, kondisi ini disebut dengan gastroenteritis atau flu perut. Meski disebut flu, kondisi ini tidak disebabkan oleh virus flu.
Muntaber disebabkan oleh infeksi rotavirus, infeksi bakteri, keracunan makanan, ataupun intoleransi atau alergi makanan. Muntaber umumnya tidak berbahaya dan akan sembuh dalam beberapa hari.
Baca Juga: 10 Penyebab Anak Muntah, Perut Kembung, dan Mencret
Penyebab Muntaber pada Anak
Ada beberapa penyebab si Kecil mengalami muntaber yang perlu Ibu tahu, yaitu:
1. Infeksi Virus
Infeksi virus adalah penyebab muntaber pada anak yang paling sering terjadi, khususnya infeksi virus rotavirus dan norovirus. Kedua virus ini sangat mudah menyebar luas di rumah, daycare, atau sekolah.
Biasanya muntaber yang disebabkan oleh infeksi virus diawali muntah selama 1-2 hari dan diikuti diare encer yang bisa berlangsung sampai 10 hari.
Beberapa anak juga mungkin mengalami demam. Vaksin dapat membantu menurunkan risikonya.
2. Infeksi Bakteri
Muntaber juga bisa disebabkan oleh infeksi bakteri, seperti salmonella, E.coli, shigella, dan campylobacter.
Selain muntah, muntaber akibat infeksi bakteri dapat juga ditandai dengan gejala seperti BAB anak berdarah atau berlendir, serta demam tinggi.
Dokter biasanya akan memberikan antibiotik, terutama bila diare yang dialami parah dan ia punya masalah pencernaan kronis.
Baca Juga: Anak Diare dan Demam? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
3. Keracunan Makanan
Keracunan makanan umum menjadi penyebab anak muntah disertai diare, terutama jika si Kecil terbiasa jajan di luar yang tidak terjamin kebersihannya.
Kebiasaan tidak mencuci tangan dengan benar juga bisa menyebabkan anak mengalami muntaber.
Selain itu, pengolahan makanan yang tidak tepat juga bisa menyebabkan makanan terkontaminasi bakteri, racun yang diproduksi oleh bakteri dapat menyebabkan keracunan makanan dan jadi penyebab anak mengalami muntaber.
4. Alergi atau Intoleransi Makanan
Anak muntaber juga bisa disebabkan oleh alergi ataupun intoleransi makanan.
Biasanya, jika disebabkan oleh alergi, gejala muntaber akan muncul segera setelah konsumsi makanan penyebab alergi.
Sementara, jika disebabkan oleh intoleransi, gejala muntaber baru muncul 12-24 jam setelah makanan dikonsumsi.
5. Infeksi Parasit
Infeksi parasit dapat menyebabkan muntaber. Biasanya, parasit mengontaminasi air, seperti kolam renang atau sungai. Meminum air yang tercemar bisa membuat anak mengalami muntaber.
Ciri-ciri muntaber akibat infeksi parasit di antaranya anak diare, kram perut, mual dan muntah, lesu, dan hilangnya nafsu makan.
6. Efek Samping Antibiotik
Beberapa jenis antibiotik bisa merusak keseimbangan bakteri di usus, kemudian memicu diare dan muntah-muntah.
Segera hubungi dokter bila Ibu mencurigai antibiotik sebagai penyebab diare pada si Kecil.
Gejala Muntaber pada Anak yang Perlu Diperhatikan
Terlepas dari apa pun penyebab muntaber, muntah dan diare adalah gejala yang pertama kali terjadi. Gejala ini muncul segera setelah si Kecil mengonsumsi makanan atau 1-2 hari setelahnya.
Setelah muntah mereda, gejala lain baru dapat mulai menyusul. Beberapa gejala muntaber anak yang perlu Ibu waspadai, yaitu:
- Diare encer
- Muntah terus-menerus
- Demam
- Sakit perut
Di awal terinfeksi, si Kecil akan memuntahkan semua makanannya dalam 3-4 jam pertama. Setelahnya, muntah akan berkurang menjadi 3-7 kali sehari atau 1-2 kali per hari.
Ibu perlu memperhatikan kebutuhan cairan si Kecil karena ia berisiko tinggi mengalami dehidrasi akibat banyaknya cairan yang hilang lewat muntah dan diare.
Ibu juga perlu memperhatikan setiap perubahan yang terjadi bersamaan dengan gejala muntaber yang dialami si Kecil. Ibu bisa cek kondisi pup si Kecil secara real-time lewat AI Poop Tracker!
Cara Mengatasi Muntaber pada Anak
Muntaber anak bisa diatasi di rumah, karena biasanya tidak berlangsung lama asal diberikan perhatian khusus. Berikut ini cara mengatasi muntaber pada anak di rumah:
1. Cegah Dehidrasi dengan Oralit
Muntah dan diare berisiko menyebabkan si Kecil dehidrasi. Berikan oralit sebagai pertolongan pertama anak muntah dan diare untuk mencegah dehidrasi.
Oralit untuk anak diberikan sebanyak 10-15 ml setiap 5 menit sekali. Setelah 4 jam tanpa muntah-muntah, tambah dosisnya. Bila 8 jam setelahnya ia tidak lagi muntah, berikan ia minum air putih.
2. Perbanyak Asupan Cairan
Selain oralit untuk anak, Ibu juga bisa menambah asupan cairan untuk mencegah dehidrasi akibat muntaber dengan memberikan air putih lebih banyak.
Buah tinggi air, seperti semangka dan melon juga dapat dipilih. Jika nafsu makannya belum muncul, Ibu bisa memberikan buah tinggi air dalam bentuk jus yang dibekukan.
Jangan memberikan si Kecil minuman tinggi gula seperti soda dan jus karena dapat memperburuk gejala muntaber.
Baca Juga: 9 Minuman untuk Diare agar Anak Terhindar dari Dehidrasi
3. Ubah Pola Makan
Selama sakit, ubahlah pola makan jadi porsi-porsi kecil, tapi lebih sering. Pilihlah makanan yang teksturnya lembut, dengan rasa tawar atau ringan, seperti roti tawar, bubur, pisang.
Aroma dan rasa yang kuat bisa memicu mual dan muntah makin buruk pada anak muntaber. Makanan berat yang berlemak, bersantan, berminyak, dan pedas juga perlu dihindari.
Umumnya, ia mulai dapat makan makanan normal sekitar 3 hari setelah muntah dan diare berhenti.
4. Istirahat Cukup
Muntaber menyebabkan anak lemas dan lesu. Oleh sebab itu, pastikan si Kecil mendapatkan istirahat yang cukup di rumah.
Batasi aktivitas fisiknya agar ia bisa pulih sepenuhnya dan dapat kembali aktif.
5. Jangan Memberikan Obat Diare Sembarangan
Anak di bawah 12 tahun tidak boleh diberikan obat diare yang dibeli tanpa resep di warung atau toko obat.
Pastikan Ibu selalu konsultasi ke dokter sebelum memberikan obat medis, ya.
Kalau si Kecil merasa mulas dan sakit perut, cobalah beberapa alternatif obat diare alami yang bisa Ibu dapatkan di dapur.
Baca Juga: Penyebab Diare pada Anak, Ciri, dan Cara Mengatasinya
Kapan Harus Membawa Anak ke Dokter Saat Muntaber?
Muntaber berisiko tinggi menyebabkan dehidrasi pada anak yang dapat berujung fatal jika tidak ditangani dengan baik.
Jika anak mengalami muntaber, ada beberapa tanda serius yang harus segera diperiksakan ke dokter:
- Muntah terus-menerus lebih dari 1 hari.
- Buang air besar cair sangat sering, sekitar 8-10 kali dalam sehari.
- Muntah terus-terusan dan tidak dapat masuk cairan apa pun.
- Muntah berwarna hijau (cairan empedu).
- BAB berdarah.
- Rewel terus sambil memegangi perut .
- Terlihat sangat lemas, mengantuk, dan sulit dibangunkan.
Ibu perlu segera membawa si Kecil ke dokter bila tampak tanda-tanda dehidrasi pada anak, seperti tidak buang air kecil lebih dari 8 jam dan urine berwarna gelap. Jangan tunda ke dokter terutama jika Ibu merasa sangat khawatir, ya.
Tanda Muntaber pada Anak Mulai Sembuh
Gejala muntaber pada si Kecil akan hilang berangsur-angsur. Beberapa tanda muntaber sembuh, yaitu:
- Muntah berkurang dan hilang dalam 6-24 jam.
- Dapat mulai minum atau makan tanpa muntah.
- Feses mulai berbentuk.
- Anak tampak mulai aktif.
- Nafsu makan kembali.
Baca Juga: Normalkah Perut Anak Kembung Terus? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Cara Mencegah Muntaber pada anak
Agar anak tidak lagi mengalami muntaber setelah sembuh, Ibu jangan sampai terlewat menerapkan cara mencegah muntaber seperti di bawah ini, ya:
- Rajin cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.
- Cuci sprei yang terkena pup atau muntahan secara terpisah.
- Bersihkan dudukan toilet, tuas flush, keran, dan pegangan pintu setiap hari.
- Jangan menggunakan handuk dan alat makan bersamaan dengan orang lain.
- Jangan berenang di kolam renang setidaknya 48 jam setelah gejala muntaber berhenti.
Semoga si Kecil sehat selalu! Bila Ibu butuh respons cepat terkait masalah pencernaan anak, Ibu bisa tanyakan langsung ke tim BebeCare yang siap menjawab pertanyaan dan kekhawatiran Ibu 24/7.
Daftar jadi member Bebeclub untuk baca ratusan artikel parenting, tips menjaga kesehatan pencernaan, hingga panduan tumbuh kembang anak terlengkap dan terverifikasi ahli. Dengan jadi member, Ibu juga bisa dapatkan akses eksklusif ke berbagai fitur monitor kesehatan pencernaan anak, hingga kesempatan dapat hadiah menarik dari setiap pembelian produk Bebelac. Daftar gratis, sekarang!
